Di negara kita, umumnya, seseorang memasuki pendidikan sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Setelah melewati TK A dan TK B, diharapkan anak siap untuk mengikuti pendidikan di SD. Dengan kesiapan itu, anak mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk berhasil mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya dibandingkan anak-anak yang belum memiliki kesiapan.
Pernyataan di atas bukanlah tanpa alasan karena Lefrançois (2000) telah menyatakan bahwa peserta belajar yang siap untuk belajar hal-hal yang lebih spesifik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih banyak yang kaya dibandingkan yang belum siap.
Istilah kesiapan (readiness), dalam kamus Webster didiskripsikan sebagai:
a. Kesiapan mental atau fisik untuk bertindak atau menerima pengalaman.
b. Yang tangkas/pantas, cakap, atau trampil
c. Immediate availability (Gredler,1992).
Dalam bahasan selanjutnya, istilah kesiapan dan kematangan sekolah mempunyai pengertian yang sama, hal ini didasari oleh pendapat Piaget (dalam Gredler,1992) yang menyatakan kedua istilah ini mempunyai pengertian yang sama karena kesiapan tidak akan pernah dapat tercapai tanpa kematangan.

Untuk bisa dikatakan siap, tentu saja ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Ada beberapa pandangan dan tokoh yang memberikan sumbangan tentang kriteria kematangan sekolah, diantaranya adalah:
* David Ausubel (1962) yang mendiskripsikan kesiapan sekolah sebagai kondisi tertentu yang tergantung pada pertumbuhan dan kematangan serta pengalaman sosial anak. Menurutnya kesiapan sekolah adalah suatu kondisi di mana:
- Anak dapat belajar dengan mudah tanpa ketegangan emosi.
- Anak mampu menujukkan motivasinya karena usahanya untuk belajar memberikan hasil yang sesuai.

* Strebel (dalam Mangunsong dkk, 1993) mengemukakan tujuh kriteria kematangan sekolah sebagai berikut:
a. Perkembangan fisik yang sudah matang.
b. Derajat ketergantungan terhadap orang tua, terutama sejauh mana keterikatan anak kepada ibunya.
c. Pemilihan tugas sendiri sesuai dengan minatnya.
d. Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan maupun yang dipilih sendiri.
e. Ketepatan prestasi kerja, sehubungan dengan konsentrasi dan perhatiannya terhadap pelajaran.
f. Keteraturan dalam berpikir daan bertingkah laku secara sosial, dalam bekerja kelompok dan teman-temannya.
g. Perkembangan mental yang dapat diukur dengan tes inteligensi dan tes kematangan sekolah.

Hal-hal yang mempengaruhi kesiapan seseorang dalam belajar adalah kematangan fisik, perkembangan keterampilan berpikir, dan adanya motivasi. Untuk mengukur kesiapan, guru dapat mengukur melalui perkembangan emosi dan intelektual anak. Selain itu juga guru perlu mengerti bagaimana anak belajar dan motivasi belajar anak (Lefrançois, 2000)

by episentrum



Related posts:

  1. Yang Perlu Diperhatikan Oleh Orangtua Saat Memasukkan Anak ke Taman Kanak-kanak Ketika mulai memasuki tahun ajaran baru sebagian orangtua berbondong-bondong antri mendaftarkan anaknya ke TK yang dianggap favorit bahkan sejak matahari...
  2. Alasan Orangtua Memasukkan Anak ke Preschool Banyak orang tua tidak yakin apa yang akan mereka lakukan untuk bisa menyediakan lingkungan belajar yang terbaik untuk anak mereka....
  3. Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara...
  4. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini 1 ”papa was mbing. ngeng…ngeng..ngeng…din…din… Apa nak, sayang main apa? Main mobil ya?… mbing pa.” ”aya mo tu” mau apa nak?...
  5. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini 2 Perkembangan awal Bahasa Sebelum mampu berbicara umumnya seorang anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara...