”papa was mbing. ngeng…ngeng..ngeng…din…din…
Apa nak, sayang main apa? Main mobil ya?… mbing pa.”
”aya mo tu” mau apa nak? Mo ueh ma”

Tidak jarang kita mendengar percakapan antara anak dan orangtua seperti di atas. Semua makhluk hidup memiliki bahasa. Dengan bahasa mereka berkomunikasi. Menurut Jo Ann Brewer dalam Introduction to early childhood education, sixth edition, dikatakan bahwa language is defined as a system of communication used by human. It is either produced orally or by sign, and it can be extended to its writen form. Jadi bahasa adalah sebuah sistem komunikasi yang dipakai oleh manusia baik berupa bahasa lisan, bahasa isyarat maupun tulisan.

Melalui komunikasi, hubungan dibentuk dan dipertahankan. Orang tua harus belajar cara menafsirkan dan memberi tanggapan terhadap komunikasi yang dilakukan dalam upaya membentuk ikatan (batin) yang akan menjadi dasar perkembangan anak selanjutnya.
Perkembangan bahasa pada anak dapat dimulai dari masih dalam kandungan. Anak adalah pebelajar yang konstruktif. Anak mempelajari bahasa dan konsep –konsep penting tanpa melalui pengajaran yang terencana secara khusus. Mereka hanya belajar ditengah-tengah orang yang menggunakan bahasa dan dengan memiliki akses yang tersedia terhadap lingkungan yang aman, menarik dan mengundang eksplorasi indera pendengaran dan indera penglihatan yang dapat membantu anak mengorganisasikan informasi dari lingkungannya.
Setiap anak memiliki perkembangan bahasa lisan yang berbeda-beda karena muatan informasi yang dapat dikumpulkan anak tidak hanya tergantung pada banyaknya dan jenis penglihatan dan pendengaran yang mereka miliki. Namun juga pada cara mereka belajar menggunakan penglihatan dan pendengaran itu. Masing-masing anak belajar memanfaatkan informasi sensorik yang tersedia dengan caranya sendiri. Beberapa anak berinteraksi dengan dunianya terutama dengan sentuhannya; sementara yang lain mungkin lebih bergantung pada penglihatan dan pendengarannya. Bagi kebanyakan anak, kombinasi dari kesemuanya itu akan paling bermanfaat. Bagi anak lainnya, menggunakan pendengaran, penglihatan, dan sentuhan pada saat yang bersamaan terasa membingungkan dan, dalam situasi yang berbeda, mereka mungkin memilih untuk menggantungkan terutama pada satu indera.
bersambung..
by episentrum



Related posts:

  1. Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara...
  2. Rancangan Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini Pembelajaran sains untuk anak usia dini difokuskan pada pembelajaran mengenai diri sendiri, alam sekitar dan gejala alam. Pembelajaran Sains pada...
  3. Mengoptimalkan Perkembangan Kecerdasan Sejak Usia Dini Peran orangtua pada dasarnya anak-anak sebagai generasi unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan...
  4. Melatih Anak Usia Dini Berpuasa Pendidikan agama berfungsi menanamkan keimanan pada diri anak sebagai bekal kehidupannya di masa depan. Keimanan adalah modal utama untuk...
  5. Masuk SD Usia Dini TAK semua anak punya perkembangan ntelektual yang ‘normal’ atau rata-rata. Adaanak ‘gifted’ atau ‘talented’ “yaitu dikaruniai kecerdasan atau bakat luar biasa-...