-
#4 written by admin 2 years ago
Boleh mbak, dengan senang hati kami akan membantu. Kl mau konsul bisa lewat email kami episentrum@episentrum.com
-
#10 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Dewi,
ada yang meyakini bahwa kesiapan membaca pada anak baru dapat dicapai pada usia sekitar 6 tahun, karenanya tidak layak memberikan upaya pembelajaran membaca dan menulis pada anak di bawah usia tersebut. Usaha tersebut tidak akan produktif dan bahkan merugikan. Karenanya anak tidak diperkenankan untuk belajar membaca dan menulis di bawah usia tersebut. Pada sisi lain ada yang berpendapat bahwa kemampuan membaca dan menulis perlu diperkenalkan sejak usia dini. Seperti kita ketahui, bahwa sekolah dasar di negeri kita seringkali mensyaratkan bahwa siswa kelas satu yang diterima di sekolah mereka telah memiliki kemampuan membaca dan menulis sehingga seringkali guru-guru TK dan orangtua berlomba-lomba untuk merecoki anak-anak dengan latihan membaca dan menulis. Anak dipaksa untuk mengenal, mampu membaca serta menulis.
Dari kedua pendapat di atas, pendapat manakah yang sebaiknjya kita ikuti? sebenarnya kedua pendapat di atas tidaklah sepenuhnya benar karena anak perlu diperkenalkan mengenal huruf dan angka sejak usia dini. Namun pengenalan tersebut tidaklah dilakukan dalam keadaan yang dipaksakan. Orangtua dan guru dapat mengenalkan dan melatih anak untuk membaca,berhitung dan menulis secara alamiah, tidak dengan cara memaksakan sehingga membuat anak tertekan.
Kondisi alamiah tersebut dengan sendirinya dapat muncul setelah anak mencapai kemampuan simbolik dengan meniru dan menyerap perilaku keaksaraan lingkungannya. Kemampuan itu juga dipengaruhi oleh perkembangan kognitif. Kemampuan tersebut tidaklah hanya meliputi kemampuan membaca,menulis dan berhitung namun juga terkait dengan berbagai kegiatan mental seperti berpikir, merasa, bersikap, berimajinasi, meramalkan, menafsirkan, mengingat, membedakan, menyimpulkan, menganalisis dan membandingkan.Semoga membantu,
Salam,
NP-episentrum -
#12 written by wuri 1 year ago
maaf, boleh q bertanya tentang. . . .
bagaiman menghadapi masalah ala orang dewasa???
jujur, umurq baru 19 tahun., q cenderung mudah marah dan sering benci jika ada yang gag aku suka dalam hati…
tiap hari ada aja yang gag q suka…
hingga q lupa caranya menikmati hidup n hanya berkutat pada masalah itu……
apa orang yang dah dewasa itu selalu sabar???
apa mereka tak pernah merasa kesal, sakit hati??? kenapa banyak yang bilang q masih kayak anak kecil??????
q ingin tunjukan ke mereka kalau aku dah dewasa, dah bisa pecahin masalah sendiri… -
#13 written by dissy dwisari 1 year ago
mba maaf saya mempunyai anak 4 3 usia sekolah dan semua bermasalah menurut guru mereka anak pertama dituduh guru sering minum bir (pdhl saya ibu rt yg selalu mendampingi anak ) yg kedua krn belum lancar baca tulis kelas 3 sd jd sangat sering dimarahi oleh gurunya anak yang ke 3 suka protes krn menurut anak saya gurunya suka menggunakan kata kata kasar harusnya kan guru itu lbh lembut sebenarnya menurut saya anak anak saya tidk ada masalah cenderung cerdas hal ini yan g menginspirasi saya tk menarik anak anak saya dari sekolah umum ke homeschooling karena tekanan yang mereka dapatkan apakah akan menimbulkan dampak ke depannya
-
#15 written by abu azcha 1 year ago
Kepada tim psikolog Episentrum, kami memiliki pertanyaan; anak saya berumur 5 tahun 10 bulan (6 tahun kurang 2 bulan) ketika masuk sd. Sebelumnya dia di TK B. Ketika masuk sd ia ditespsikologi. Hasilnya dinyatakan bahwa anak saya berada pada grade superior.
Dalam perjalanan waktu, anak saya beberapa kali protes tidak mau masuk sekolah (full day school, dari jam 07.00 – 13.30). Alasannya ada beberapa macam; anak saya tidak bersedia diresponsi (karena sampai jam 15.00 harus di kelas). Alasan diresponsi agar anak tidak main dan lari-larian. Alasan kedua; dia mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris. Setelah kami cek, buku catatannya, ternyata anak sudah harus mengerti bahasa Inggris dalam bentuk teks kalimat. Padahal dalam buku paket, seharusnya anak kelas 1 sd lebih banyak belajar kosa kata, bukan memahami teks berbahasa Inggris. Bagaimana kami harus mensikapi hal ini, baik dari segi anak maupun guru di sekolah. Atas jawabannya kami ucapkan terimakasih. -
#17 written by admin 1 year ago
Dear Wuri,
Untuk menjadi seseorang yang berpikiran dan berperilaku dewasa itu memerlukan proses. Proses ini dapat diambil dari pengalaman-pengalaman kita berhadapan orang lain dan selalu mengevaluasi diri kita. Usaha yang sudah kamu lakukan termasuk baik, seperti bertanya kepada Episentrum mengenai cara orang dewasa menghadapi masalah. Sebenarnya kamu mau berusaha memperbaiki diri dengan mencari pendapat dari orang lain. Perlu diketahui, orang dewasa juga memiliki emosi seperti kesal, sakit hati, kecewa, sedih, bahagia dan marah. Hanya saja, orang dewasa lebih dapat menguasai emosi mereka saat dihadapkan pada situasi yang menekan. Kamu juga bisa melatih mengendalikan diri kamu.Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengendalikan emosi, antara lain:
1. Kenali terlebih dahulu emosi yang sedang kamu alami (apakah itu emosi bahagia, sedih, kecewa, atau marah).
2. Setelah itu, kenali situasi apa saja yang dapat memicu emosi bahagia, sedih, kecewa atau marah.
3. Setelah kamu dapat mengenali emosi dan situasi emosi, maka mulailah mengingat reaksi apa yang akan kamu lakukan saat emosi itu muncul? (misalnya: saya akan membanting barang saat marah)
4. Kemudian, cobalah untuk mencari reaksi lain yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi. Cari alternative pemecahan masalah sebanyak-banyaknya dan cobalah terapkan pada situasi tersebut muncul.
5. Perlu dilakukan adanya relaksasi. Coba cari beberapa gerakan yoga yang ditujukan untuk dapat merelaksasikan pikiran dan tubuh. Latihan ini sebaiknya dilakukan setiap hari agar tubuh dan pikiran mendapatkan rileks.
6. Yang terakhir adalah self-talk, yaitu berbicara kepada diri sendiri saat situasi emosi tersebut muncul. Misalnya, “saya dapat menahan marah, tidak perlu banting-banting barang” sambil mengatur nafas.
7. Coba lakukan semua langkah di atas untuk melatih kendali diri kamu dan secara rutin mengevaluasi setiap perilaku emosi yang telah dilakukan. Dengan begitu, proses kamu menuju dewasa semakin dekat
Selain itu, orang yang sedang emosi biasanya tidak mau mendengarkan orang lain berpendapat, terutama orangtua. Perilaku tidak mau mendengar itu seringkali dipersepsi orangtua sebagai sesuatu yang kurang sopan meskipun dengan tujuan ingin mengungkapkan pendapat kepada orang itu. Berusahalah dulu untuk mendengarkan pendapat dari lawan bicara. Setelah lawan bicara selesai berbicara, coba untuk mengungkapkan apa yang kamu pikirkan padanya. Apabila kamu tidak dapat mengungkapkan saat itu juga, kamu dapat menahannya setelah emosi sudah dapat dikendalikan. Kemudian, barulah berikan dirimu kesempatan untuk berbicara. Dan biasanya orang dewasa memecahkan masalah dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan mengetahui konsekuensi apa yang akan ditimbulkan ketika ia melakukan perilaku tersebut. Sebaiknya kamu juga telah mempertimbangkan segala konsekuensi tersebut dengan sebaik-baiknya.
Semoga dapat membantu.Salam
RM-episentrum -
#18 written by admin 1 year ago
Bapak/Ibu Azcha Yth,
Berdasarkan keterangan dari ibu, anak ibu yang berusia 5 tahun 10 bulan ini sebenarnya belum matang untuk mengikuti Sekolah Dasar (SD) meskipun hasil psikotesnya menyatakan bahwa taraf kecerdasan anak ibu berada pada taraf superior. Hal ini menunjukkan bahwa anak ibu matang secara kognitif (atau mampu mengikuti pelajaran SD). Hanya saja, kematangan masuk SD bukan hanya dari segi kognitif melainkan dari segi kepribadian (emosi, adaptasi, sosial). Dari segi kepribadian, anak ibu belum mampu beradaptasi dengan aturan-aturan yang diberikan oleh sekolah yang menyebabkan ketidaknyamanan pada anak ibu sehingga ia menolak untuk masuk sekolah. Dalam kondisi ini, anak dituntut untuk dapat mengikuti aturan yang ada. Tugas ibu sebagai orangtua adalah mencoba untuk membantu anak dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Berikan penjelasan kepada anak mengenai pentingnya sekolah dan pentingnya peraturan yang ada. Jelaskan juga manfaat dari diciptakannya peraturan dan kerugian dari tidak adanya peraturan. Penjelasan ini sebaiknya menggunakan bahasa yang lebih dimengerti anak dan contoh konkret agar anak mengerti tentang perlunya sebuah peraturan. Sebagai contoh: “Kakak tidak boleh berlarian di dalam kelas karena itu akan mengganggu teman lain yang sedang mengerjakan tugas. Beda dengan kakak kemarin yang masih di TK. Di TK, kakak masih boleh bermain, tapi sekarang kakak harus duduk diam karena sudah SD.”
Meski ibu merasa materi pelajaran bahasa Inggris kurang sesuai dengan materi kelas 1 SD, anak harus tetap menguasai agar tidak tertinggal. Namun, menurut saya, pelajaran bahasa Inggris dengan memahami teks pelajaran lebih memudahkan anak untuk meningkatkan kosakatanya. Dengan mengambil beberapa kosakata dari teks, anak dapat belajar penempatan kosakata yang baik dalam suatu kalimat. Meski teks bahasa inggris, materi pelajaran tersebut hanya terdiri dari beberapa kalimat. Hal ini tidak akan mempersulit anak untuk mempelajari materi tersebut. Tugas ibu adalah membantu anak dalam menghafal beberapa kosakata yang belum diketahuinya atau dihafalnya. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui media permainan, seperti menggambar atau tebak gambar. Selain itu, ibu dapat menjelaskan kosakata tersebut sebaiknya ditaruh di kalimat yang seperti apa. Aktivitas ini merupakan aktivitas yang menarik. Anak tidak merasa bosan atau sulit dan ibu mendapatkan waktu yang berkualitas dengan anak. Selamat mencoba.
RM-episentrum -
#19 written by dwi y samodra 1 year ago
saya mempunyai dua orang anak, yang pertama berumur 8 th yang kedua berumur 3 th, saat anak pertama saya msh berumur 6 th dia sangat cerdas dan berprestasi di sekolah TK nya, tapi saat ini dia sangat susah untuk menangkap pelajarannya. saya jadi putus asa, kadang memarahinya dan sempat pula memukulnya yang berakibat dia pernah kabur dari rumah gara-gara sikap saya yang keterlaluan menurut dia itu. saya sangat menyesalinya…… tapi lagi lagi saya di buatnya marah karena susahyna dia menagkap pelajaran yang berkali-kali sdh saya ulang. Tolong bantu saya bagaimana seharusnya menghadai anak saya itu…? atau sayalah yang bermasalah dalam mendidik anak. Kr saya jg seorang ibu pekerja yg pulang smp rmh sdh sore hari. Terima kasih….
-
#20 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Dissy,
Saya paham akan perasaan ibu terhadap laporan guru mengenai ketiga anak ibu yang bermasalah di sekolah. Akan tetapi, ibu perlu mengevaluasi diri ketiga anak mengenai masalah yang disampaikan oleh guru. Pembahasan ini sangat terbantu apabila ibu menginformasikan latar belakang keluarga ibu (sosek, profesi ibu dan ayah, hubungan ibu dan ayah). Untuk anak pertama, ibu perlu mencari informasi lebih kepada guru dan teman-teman dekat anak mengenai perilaku meminum bir. Saya tidak mendapat informasi mengenai usia anak pertama ibu, Namun saya prediksikan bahwa anak ibu berada pada masa remaja (SMP atau SMU). Dalam menghadapi anak-anak yang sudah beranjak dewasa, ibu dan ayah perlu menempatkan diri sebagai teman, bukan sebagai figur otoritas. Jika ibu/ ayah menggunakan otoritas, maka tidak akan dapatkan informasi mengenai kebutuhan atau keinginan/ perasaan yang dialaminya saat ini. Diskusi sebagai teman merupakan cara efektif bagi orangtua untuk mengetahui alasan anak meminum bird an permasalahan yang sedang dihadapi sehingga pemecahan masalahnya adalah meminum bir. Jika ayah/ ibu tidak tahu bagaimana cara mendekati anak, maka dapat digunakan jasa konsultasi psikolgi sebagai fasilitator dalam mencari tahu anak meminum. Namun, akan lebih baik apabila orangtua melakukan diskusi sebagai teman terlebih dahulu. Karena kegiatan tersebut akan meningkatkan hubungan berkualitas antara ibu/ ayah dan anak. Karena mungkin saja, alasan anak meminum bir adalah sebagai bentuk untuk mencuri perhatian ayah dan ibu.
Lakukan evaluasi kepada anak kedua dengan memberikan tes membaca dan tes menulis. Evaluasi ini ditujukan untuk melihat sejauhmana kemampuan membaca dan menulis anak ibu. Jika hasil menunjukkan bahwa anak ibu tidak lancar membaca dan menulis, ibu perlu mengingat kembali mengenai perkembangan bahasa dari bayi hingga sekarang. Apakah pernah mengalami keterlambatan atau bagaimana? Meski demikian, ada tugas yang harus ibu lakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis yaitu dengan memberikan latihan membaca dan menulis. Lakukan aktivitas ini dengan sistem reward untuk menarik minat membaca anak. Selain itu, ibu dapat mencari tahu bacaan yang disukai anak. Mulainya dari kata-kata, kalimat-kalimat sederhana, kalaimat kompleks, bacaan-bacaan sederhana hingga bacaan yang kompleks. Hal ini ditujukan untuk menguatkan konsep dasar membacanya. Tiap kali anak belajar membaca, mintalah anak untuk membacanya dengan keras. Saat anak melakukan kesalahan dalam membaca, ibu langsung memberikan koreksi (artikulasi, cara baca, tanda baca) kepada anak. Namun berikanlah pujian kepada anak apabila anak berhasil membaca sebuah kalimat dengan lancar. Setelah anak berhasil menguasai konsep dasar membaca, berikanlah kesempatan kepada anak untuk memahami bacaan. Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan memberikan tanya jawab kepada anak mengenai cerita yang telah dibacanya. Dari kegiatan tersebut, ibu dapat mengetahui apakah anak dapat memahami cerita atau tidak.
Menurut saya, anak ibu yang ketiga tergolong anak yang cukup ekspresif dalam mengemukakan pendapatnya. Namun perlu diberi penjelasan kepada anak mengenai sopan santun dalam memberikan pendapat kepada orang yang lebih tua meskipun orangtua tersebut berbicara kasar. Sebagai contoh, Ibu dapat mengatakan kepada anak, “kamu boleh tidak setuju dengan perilaku guru berbicara kasar. Akan tetapi, cara menyampaikan ketidaksukaan kamu tersebut harus memiliki aturan. Kamu bisa mengemukakan pendapat di waktu privasi/ luang guru. Gunakan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan guru. Kamu boleh mendiskusikan kata-kata yang akan kamu gunakan dengan ibu apabila kamu takut kata-kata tersebut menyinggung perasaan guru”.
Mengenai homeschooling, saya rasa perlu dipertimbangkan sekali untuk memasukkan anak-anak ibu dalam homeschooling. Prosedur homeschooling tidak semudah yang dibayangkan. Perlu adanya konsultasi kepada ahli homeschooling mengenai kurikulum yang sesuai untuk diberikan kepada tiap anak ibu. Belum lagi, perlu diperhatikan mengenai para pengajar dan kekonsistenan dalam melaksanakannya. Dalam hal ini, saya rasa homeschooling bukan merupakan solusi yang tepat dalam menghadapi masalah yang terkait pada anak ibu. Semoga masalah ketiga anak ibu dapat selesai.Salam,
RM-episentrum -
#21 written by Dissy 1 year ago
Thanks sarannya admin anak saya yg pertama kelas 4 SD bu… anak 1 pernah cerita kalau ada temannya yg bercerita ke ddia kalau ayah temannya itu sering mengajak ke bilyar tiap minggu dan minum bir guru salah menangkap pembicaraan tsb dan anak ketiga yg ekspresif itu tdk berani bicara langsung dengan gurunya dia hanya bicara ke saya dan anak ketiga saya ini tidak mau masuk kelas mogok ceritanya dan ketakutan padahal bukan dia yang ditegur oleh guru bu dan keukeuh gurunya harus merubah cara menegur temannya dengan ide dia membikin lagu , saya yg berusaha berbicara kepada guru tetapi gurunya tidak mau membujuk anak saya masuk ke kelas selama 2 – 3 bulan saya sebagai ibu terus membujuk tiap sampai sekolah muntah akhirnya kami konsultasi ke psikolog satu satunya jalan adalah hs sementara waktu sampai rasa trauma guru menghilang kami juga sdh tes bakat anak kami agar lebih maksimal pengarahannya. Oh ya tambahan pada waktu tk anak yg ekspresif ini ceria brani kritik guru langsung setelah tk b cenderung diam off di kelas dan kejadian ini baru terjadi saat kls 1. Latar belakang keluarga kami cukup baik papanya seorang pilot yang sangat perhatian thd anak-anaknya dari mulai mengganti popok dlsbg hingga mereka agak besar selalu meluangkan waktu saat off duty dengan karaoke bareng atau ke mesjid bareng mkn es krim brg dll saya sendiri back ground S1 Hukum yg dulunya bekerja melihat anak saya sangat aktif saya memutuskan untuk mendidik mereka di rumah. Dengan bertambahnya usia mereka mereka diberi pengarahan dengan alasan alasan , memang bu birokrasi tk hs lumayan ribet krn saya sudah mulai menjalaninya dengan niat nawaitu proposal saya sudah selesai karena saya tidak ada pilihan lain bu karena pihak sekolah sudah mencoret nama anak kami mohon doa admin tolong sarannya.
-
#22 written by admin 1 year ago
Dear Hanie
Julukan Psychopath biasanya pada orang awam digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menunjukkan gejala atau perilaku yang tidak biasa pada kebanyakan orang atau disebut abnormal. Gangguan abnormalitas dapat terjadi pada setiap jenis kelamin dan pada usia berapa pun. Namun sayang sekali kamu kurang menjelaskan secara rinci bagaimana gambaran psycho yang kamu maksud karena ada banyak jenis dan macam bentuk abnormalitas. Apakah abnormalitas dalam bentuk sexual, gangguan jiwa, phobia, mania (macam –macam bentuk mania atau biasanya orang menyebut maniak seperti suka kekerasan –hypermania- atau ketagihan berhubungan seksual –Hysteromania- dan masih banyak lagi). Jadi maaf sekali jika saya tidak dapat menjawab pertanyaan kamu karena kurangnya informasi yang kamu berikan.Salam,
VY-episentrum -
#23 written by admin 1 year ago
hai ilun….
memang benar bahwa masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan psikologis serta mental seseorang. disepanjang rentang kehidupan manusia, sikap, perilaku, karakter serta kepribadian, perkembangannya dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dialamai secara langsung maupun tidak. pengalaman yang dialami secara langsung memberikan dampak yang lebih besar terhadap pemaknaan seseorang akan nilai-nilai yang berkembang dalam hidupnya. contohnya 2 orang yang mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan namun pemaknaan terhadap kegagalan dapat berbeda antara kedua orang tersebut. orang yang pertama dapat memaknai secara positif dan mengambil pelajaran sedangkan orang yang kedua memaknai secara negatif dan mengalami kekecewaan hingga depresi. kemampuan pemaknaan ini akan mempengaruhi perkembangan mental serta kemampuan seseorang bertahan terhadap masalah dimasa yang akan datang apapun bentuknya .Besarnya pengaruh masa lalu terhadap perkembang psikologis tergantung pada besarnya masalah yang dihadapi pertama kali oleh orang tersebut, bagaimana ia memaknai atau memandang masalah serta bagaimana ia mencari solusi penyelesaian masalah tersebut. ketika untuk pertama kalinya ia menghadapi masalah, mampu memaknai secara positif dan berhasil menemukan solusi maka besar kemungkinan perkembangan mental serta psikologisnya akan berkembang dengan baik. sedangkan jika seseorang untuk pertama kalinya mengalami masalah, memaknai negatif serta tidak mampu menemukan solusi maka besar kemungkinan ia akan mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah di kemudian hari. hal ini tentu saja berdampak buruk bagi perkembangan psikologis. individu tersebut akan tumbuh menjadi orang yang rentan, mudah menyerah, mudah kecewa dan banyak hal negatif lainnya.
Seperti sudah dijelaskan bahwa masa lalu berdampak besar bagi perkembangan psikologis. terlebih jika pengalaman tersebut merupakan hal yang kurang baik/buruk. pengalaman yang buruk lebih sulit untuk dilupakan dan biasanya melekat dengan kuat pada ingatan orang tersebut. bayang-bayang masa lalu yang buruk membuat seseorang sulit untuk maju karena banyak hal yang ingin ia lakukan biasanya selalu dikaitkan dengan masa lalu dan menjadi trauma sehingga membuat orang menjadi pesimis akan apa yang dilakukannya. seseorang yang mengalami masa lalu yang buruk, dapat saja melepaskan bayang-bayang masa lalunya namun itu bukanlah hal yang mudah.
langkah-langkah yang harus dilakukan
1. mau membuka diri dan menyadari bahwa ia memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan/menyakitkan serta menyadari bahwa hal tersebut merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan, (tidak bersikap denial).2. mau memaafkan diri sendiri (jika kesalahan dilakukan oleh diri sendiri) serta orang lain. bagian ini merupakan hal yang paling sulit dilakukan karena kecenderungan manusia sulit untuk berpikir obyektif jika telah mengalami perlakukan yang tidak menyenangkan. jika ternyata memang sangat sulit untuk melihat sisi positif seseorang maka berpikirlah positif terhadap diri sendiri. pikirkan bahwa diri anda lebih berharga dan tidak sepantasnya anda mengalami kemunduran dalam hidup anda.
3. orientasi pada masa depan dan bukan masa lalu. setiap anda teringat pada masa lalu, cepat alihkan dengan melakukan sesuatu yang dapat membuat anda lupa. jangan malah mengembangkan imajinasi “seandainya dulu saya tidak bla…blaa…blaaa…!! hal ini akan membuat anda kembali bersedih dan menyesal.
4. tentukan tujuan hidup yang ingin dicapai. fokus pada tujuan tersebut, abaikan segala bentuk kegiatan yang dapat mengingatkan anda pada masa lalu.
5. mintalah bantuan kepada orang terdekat untuk membantu anda fokus pada tujuan hidup, melupakan masa lalu, bersikap lebih positif dan memberikan penghargaan lebih pada diri sendiri.
Yang paling penting adalah jangan menggeneralisir suatu hal karena pernah mengalami kegagalan/kekecewaan di masa lalu. Tidak ada seorang pun yang dapat membuat diri kita maju dan melupakan masa lalu selain DIRI KITA SENDIRI.
Salam,
VY-episentrum -
#24 written by wawa 1 year ago
YTH EPISENTRUM ,
Saya mempunyai seorang anak perempuan usia 3th 9 bln , dia sudah naik TK B sekarang. Tahun lalu saya masukkan ke TK A dgn mksd hanya dititipkan krn dia merengek2 minta sekolah. Tapi ternyata stlh 1 thn di TK A dia di anggap mampu untuk melanjutkan ke TK B , dgn catatan motorik untuk menulis perlu di tingkatkan sementara kognitif diatas rata2 (hsl test IQ 140). Sbg info krn saya melihat keterikannya pd buku usia 13 bulan saya mulai mengenalkan huruf pd anak saya dan usia 15 bulan dia sudah hafal dgn fasih menunjukkan huruf A-Z. Usia 2 tahun mulai merangkai huruf menjadi suku kata , usia 3 mulai mengeja dan skrg sudah mulai lancar membaca kata-kata dgn 2 dan 3 suku kata.
Yang menjadi kekhawatiran saya saat ini , saat dia menulis menamai benda2 , maka tulisan tangannya harus kita baca melalui cermin. Awalnya saya pikir dia menulis dr arah kanan ke kiri ternyata tidak , setelah saya amati ternyata dia tidak menulis dari kiri ke kanan tetapi semua hurufnya tidak normal. Kalo saya mengawasi dia menulis dia mulai menulis terbalik saya langsung ingatkan, dia tertawa dan bisa menulis normal. Saya test membaca saat tulisan saya dekatkan ke cermin ternyata dia lebih lancar / cepat di banding kalo membaca posisi normal. Apakah ada yang salah dengan anak saya ? Please advise !
Hal lain yang dia suka selain buku adalah puzzle , dan dia sangat mahir dgn permainan ini. Saya coba bingkai puzzle dibalik dr berbagai arah dia bisa menyelesaikan hampir sama cepatnya dgn posisi bingkai normal. Saya mencampur 3 set potongan puzzle dia bisa dgn cepat memisahkan menjadi 3 set potongan puzzle walpun potongannya sama dan warnanya senada.
Saya mohon bantuannya untuk menjelaskan apakah ada yang salah dengan anak saya yang menulis tulisan cermin ( atau ada istilahnya ?)
Banyak terima kasih sebelumnya.
Hormat saya ,
wawa -
#25 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Wawa,
Berdasarkan informasi yang ibu berikan, perkembangan bahasa yang dimiliki oleh anak ibu tergolong sangat cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Perkembangan bahasa yang tergolong cepat ini dipengaruhi oleh taraf kecerdasannya (daya tangkap, memori), stimulus yang intensif, dan adanya minat anak terhadap bacaan. Akan tetapi, anak-anak biasanya mulai membaca saat mereka berusia 3-5 tahun. Jika anak tersebut dapat mengembangkan sebelum usianya, ibu sudah melakukan hal benar dengan memfasilitasi anak melalui bacaan. Seperti kepekaan ibu terhadap minat anak yang menyukai permainan puzzle. Teruslah asah kemampuannya bermain puzzle. Dengan demikian, ibu akan mengembangkan kemampuan analisis sintesisnya dengan lebih baik. Hanya saja, saya melihat ada kekhawatiran pada ibu yang ditimbulkan dari efek “terlalu” cepatnya perkembangan anak, terutama pada kemampuan membacanya. Yang perlu dilakukan oleh ibu adalah: Pastikan konsep dasar membaca dan menulis anak (apakah sudah dilakukan dengan benar atau tidak). Ibu perlu merinci dari awal mengenai artikulasi, cara membaca anak, dan huruf-huruf alfabet yang tidak diketahuinya. Setelah konsep dasarnya tidak mengalami masalah, ibu perlu memeriksa apakah anak ibu mengalami kesulitan dalam membaca normal atau hanya kebiasaan karena terbiasa membaca terbalik. Dua hal ini adalah sesuatu yang berbeda. Biasanya, anak yang mengalami kesulitan membaca normal atau hanya bisa membaca terbalik (seperti membaca menggunakan cermin) memiliki gangguan membaca terbalik atau disebut dysleksia. Namun, saya tidak ingin berasumsi terlebih dahulu anak ibu mengalami dysleksia karena perlu dilakukan pemeriksaan lebih rinci mengenai hal tersebut. Disini juga ibu mengatakan bahwa sebenarnya ia dapat membaca normal, hanya saja perlu diingatkan ( Kalo saya mengawasi dia menulis dia mulai menulis terbalik saya langsung ingatkan, dia tertawa dan bisa menulis normal. Saya test membaca saat tulisan saya dekatkan ke cermin ternyata dia lebih lancar / cepat di banding kalo membaca posisi normal). Dari kutipan informasi tersebut, belum tentu anak ibu mengalami dysleksia karena sebenarnya anak ibu dapat membaca normal namun tidak terbiasa. Namun perlu diteliti lebih lanjut sejauhmana kelancaran membacanya, kesulitan apa yang biasanya dialami oleh anak (huruf, kata atau kalimat), dan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan membaca. Anak dysleksia umumnya sangat kesulitan membaca dalam posisi normal. Kesulitan membaca ini juga biasanya akan mempengaruhi cara menulis anak. Anak akan menulis terbalik tentang huruf, kata atau kalimat. Saya sarankan ibu untuk memeriksa anak ibu ke psikolog anak atau ahlinya. Semoga dapat membantu mengatasi kekhawatiran ibu.Salam,
RM-episentrum -
#26 written by admin 1 year ago
Dear Bu Dissy,
Terima kasih atas email balasannya. Saya mencoba untuk menjawab masalah pada anak ketiga ibu yang mengalami “school refusal” atau menolak ke sekolah dengan alasan takut dengan figur otoritas, terutama guru, karena diminta untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Rasa cemas tersebut menyebabkan pengalaman yang buruk bagi anak. Saya menghargai usaha ibu yang telah memeriksakan anak ke psikolog. Yang ingin saya tanyakan adalah saran apa yang diberikan psikolog untuk meminimalisir atau menghilangkan trauma anak? Dan pernahkah ibu mengkomunikasikan hasil pemeriksaan psikologi anak dengan gurunya di sekolah? Jika belum dikomunikasikan pada guru, saya menyarankan ibu untuk berusaha berbicara sekali lagi dengan guru dan menjelaskan mengenai hasil pemeriksaan psikologi yang telah ibu lakukan dan saran apa saja yang harus dilakukan agar anak masuk sekolah. Saya juga menyarankan agar ibu sebaiknya meminta anak untuk mengikuti terapi (yang dilakukan oleh para ahli) agar anak dapat mengurangi rasa cemasnya terhadap sekolah. Selain itu, perlu ada penjelasan-penjelasan yang harus ibu lakukan mengenai manfaat bersekolah dan kelemahan apabila tidak bersekolah. Berikan penjelasan yang positif mengenai sekolah sebanyak-banyaknya. Dari penjelasan yang ibu lakukan, diharapkan anak dapat memiliki persepsi positif mengenai sekolah. Sedangkan untuk anak ibu yang pertama, saran saya adalah ibu tetap harus memonitor kegiatan yang dilakukan oleh anak meski ia mengatakan bahwa yang minum bir tersebut adalah ayah temannya. Selain itu, berikan juga penjelasan mengenai resiko yang akan diperoleh apabila mengkonsumsi bir, terutama bagi masa depan anak. Hal ini ditujukan agar anak mengetahui kerugian yang akan didapatnya ketika ia mengkonsumsi minuman ini. Ibu sebaiknya memberitahukan cerita tersebut kepada guru dan mencari tahu apa yang membuat guru menyimpulkan bahwa anak ibu minum bir. Mintalah informasi, terutama fakta, yang menunjukkan anak ibu minum bir. Untuk anak ibu yang dicoret dari TK, sebaiknya ibu mencari alternatif sekolah lain. Dengan bersekolah, anak lebih banyak mendapatkan manfaat daripada homeschooling di rumah. Akan tetapi apabila homeschooling adalah pilihan terakhir ibu untuk mendidik anak, saya sarankan agar ibu dapat mengkonsultasikan prosedur dan kurikulum homeschooling pada ahlinya. Ibu sebaiknya mengetahui lebih rinci mengenai kelebihan dan kelemahan homeschooling. Semoga saran saya dapat membantu.
Salam,
RM-episentrum -
#32 written by YUNIATI 1 year ago
sekarang anak saya masuk sdn kls 1 dengan umur 6,3th.dulu di tk bu gurunya pernah bilang ke saya kalo anak saya suka mengerjakan tugas temannya.sekarang baru 5 hari masuk sd temannya menyuruh mengerjakan tugas matematika(dg catatan pekerjaannya anak saya sudah selesai, anak saya kebetulan suka matematika,sudah bisa penjumlahan,pengurangan,perkalian,pembagian(sedikit2).)iq anak saya 120.saya pernah bilang kalo kamu pintar bisa untuk cari uang.lha dia mengerjakan itu minta reward sama temannya,bagaimana ini.saya bilang mbantu boleh/ngajarin tapi kalo ulangan tidak boleh.tapi persepsinya anak saya kayaknya belum pas,mohon bantuaannya.tks
-
#33 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Dwi
mohon maaf sebelumnya karena kami baru menjawab email ibu.Setelah membaca pengalaman yang ibu rasakan, memang tidak mudah dalam mengurus anak setelah seharian bekerja. Akan tetapi dalam hal ini, ibu harus dapat membedakan kehidupan ketika sudah berada di rumah dan saat berada di kantor. Dari informasi yang diberikan, ibu kurang dapat menahan emosi ketika mengajari ananda belajar. Kurang dapat mengendalikan diri ini mungkin salah satu penyebabnya adalah habisnya energi yang dimiliki ibu saat berada di rumah. Akan lebih baik apabila ibu istirahat sejenak untuk meregangkan seluruh tubuh ibu sebelum mengajak ananda untuk belajar. Setelah merasa cukup berenergi kembali, ibu dapat belajar bersama ananda. Dengan begitu, emosi ibu juga lebih dapat dikendalikan sehingga tidak melakukan kekerasan fisik atau verbal kepada ananda ketika belajar bersama. Dengan kondisi emosi ibu yang baik, ibu dapat melihat atau mengekplorasi lebih jauh mengenai kekurangan dan kelemahan ananda dalam bidang akademis. Dari pengamatan yang ibu lakukan selama belajar bersama, ibu dapat memperbanyak latihan pada pelajaran-pelajaran yang dirasa kurang. Karena sebenarnya, ibu sebagai pekerja yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dapat memicu ananda menjadi kurang termotivasi saat belajar. Ia merasa teman-teman ditemani oleh orangtua mereka ketika belajar. Ia merasa kurang diperhatikan oleh orangtua sehingga perilaku yang ditampilkan untuk mencuri perhatian adalah dengan memberikan prestasi yang buruk. Salah satu cara agar ananda merasa diperhatikan adalah dengan belajar bersama atau melakukan kegiatan yang menyenangkan secara bersama-sama, seperti makan malam bersama atau menghabiskan waktu ke taman bermain ketika akhir pekan dan orangtua harus ikut terlibat aktif di dalamnya.
Untuk mengantisipasi perilaku pergi dari rumah tidak terulang lagi, sebaiknya ibu meminta maaf kepada ananda dan menjelaskan tujuan dari tindakan yang ibu lakukan ketika itu. Berikan sentuhan fisik seperti memeluk atau mencium kening ananda sehingga ia merasa disayang. Perilaku ini dapat mengurangi rasa kekecewaannya terhadap perilaku keras ibu terhadap dirinya tempo hari. Akan lebih baik, hindarilah kekerasan verbal atau fisik ketika ingin memberikan pelajaran terhadap anak. Kekerasan fisik atau verbal boleh dilakukan sesekali namun itupun sebagai pilihan terakhir. Jika terlalu sering dilakukan kekerasan fisik atau verbal, anak akan menjadi kurang percaya diri, merasa kurang disayang/ dihargai, dan perilaku yang tampak adalah kurang mau melakukan instruksi yang diberikan kepadanya atau pergi dari rumah. Semoga saran saya dapat mengurangi kecemasan ibu terhadap masalah ananda yang tidak mau belajar. Terima kasih.
Regards,
-
#34 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Dewi
Mohon maaf karena kami menjawab email Ibu
Berdasarkan jurnal Teologi Kontekstual Edisi no. 8 th. 2005 disebutkan bahwa brain gym itu dilakukan dengan cara tes otot untuk mengetahui hambatan-hambatan tubuh yang dapat berpengaruh pada kemampuan belajar dan daya tangkap. Brain gym membuka bagian-bagian otak yang sebelumnya tertutup atau terhambat sehingga kegiatan belajar berlangsung dengan menggunakan seluruh otaknya. Dengan latihan brain gym diaktifkan tiga dimensi otak, yaitu: (1) lateralisasi – komunikasi (kiri-kanan).
Gerakan untuk menyebrang garis tengah; meliputi: sikap positif mendengar, melihat, menulis, bergerak. Otak kita terdiri dari dua bagian. Masing-masing belahan otak mempunya tugas tertentu. Secara garis besar, otak bagian kiri berpikir logis dan rasional, menganalisa, bicara, berorientasi pada waktu dan hal-hal terinci; sedangkan otak bagian kanan intuitif, merasakan, musik, menari, kreatif, melihat keseluruhan, ekspresi badan, dan seterusnya. Otak belahan kiri mengatur badan bagian kanan, mata, dan telinga kanan. Otak belahan kanan mengontrol badan bagian kiri, mata dan telinga kiri. Dua belahan otak disambung dengna “corpus caflosum” yaitu simpul saraf kompleks dimana terjadi transmisi informasi antara kedua belahan otak. Untuk membaca dengna lancer, menulis dengan benar, mendengarkan dan berpikir pada saat yang sama, kita harus mampu “menyebrang garis tengah” yang menghubungkan otak bagian kiri dan kanan. Kemampuan belajar paling tinggi apabila kedua belahan otak dapat bekerjasama. (2) Fokus – Pemahaman (muka- belakang). Gerakan meregangkan otot, meliputi konsentrasi, pengertian dan pemahaman. Gerakan ini menunjang kesiapan utnuk menerima hal baru dan mengekspresikan apa yang sudah diketahui. Kalau sulit memahami inti keseluruhan pelajaran atau orang tidak dapat berkonsentrasi sebaiknya gerakan jenis ini dilakukan agar otot lega dan semgat belajar meningkat, misalnya putaran leher. Pemfokusan adalah kemampuan untuk memisahkan fungsi otak bagian belakang dan depan. Informasi yang diterima oleh otak bagian belakang yang memiliki fungsi merekam semua pengalaman dan memproses informasi untuk diteruskan ke otak bagian depan untuk mengekspresikannya sesuai tuntutan atau keinginannya. BIla seorang takut, gugup atau mengalami stress ketika belajar, secara refleks energi ditarik ke otak bagian belakang sehingga otak bagian depan mengalami kekurangan energi. Akibatnya jawaban yang tadinya siap, tiba-tiba terlupa atau penjelasan menjadi kurang sempurna. (3) Pemutusan – Pengaturan (atas – bawah). Gerakan untuk meningkatkan energi, meliputi mengorganisasi, mengatur, berjalan, tes atau ujian.Manfaat dari brain gym antara lain:
- Stres emosional berkurang dan pikiran lebih jernih
- Hubungan antar manusia dan suasana belajar atau kerja lebih rileks dan senang
- Kemampuan berbahasa dan daya ingat meningkat
- Orang menjadi lebih bersemangat, lebih berkonsentrasi, lebih kreatif dan efisien
- Orang merasa lebih sehat karena stress berkurang
- Prestasi belajar dan bekerja meningkat
Sedangkan menurut Ahli saraf dari Harvard University, Mark Tramo, M.D., getaran musik yang masuk melalui telinga dapat mempengaruhi kejiwaan, Ini terjadi karena didalam otak manusia, terdapat jutaan neuron dari sirkuit secara unik menjadi aktif ketika kita mendengar musik. Neuron-neuron ini menyebar ke berbagai daerah di otak, termasuk pusat auditori di belahan kiri dan belahan kanan. Mulai dari sinilah kaitan antara musik dan kecerdasan terjadi. Penelitian bagaimana pengaruh musik terhadap kecerdasan juga dilakukan oleh psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shawdari University of California-Irvine, Amerika Serikat pada tahun 1994. Hasil penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa erat kaitan antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi, dan keterampilan-keterampilan sains. Setelah delapan bulan, penelitian kedua pakar ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan program pendidikan musik, meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebesar 46% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diekspos oleh musik .Salam,
RM-episentrum -
#37 written by sribeby 1 year ago
Saya ibu dari 3 org anak (single parent) bekerja dgn penghasilan kurang, sebenarnya anak kandung saya 1 cewek usia 12, dua lagi anak adik saya yang ibunya sdh meninggal, laki2 usianya 10 thn dan 5 thn, mereka sdh tinggal dgn kami kira2 3 thn, problem saya sampai saat ini anak perempuan saya msh merasa cemburu pd 2 sepupunya, kdg memancing emosi saya, sblm mrk tinggal dgn kami sampai saat ini jg memberi penjelasan agak sikapnya berubah tp sepertinya , kemudian problem lain saya yaitu kedua anak laki-laki adik saya gemar berbohong, dgn sikecil saya tdk begitu khawatir tapi untuk si abang saya agak khawatir, karena dia bisa mengarang suatu cerita bohong terutama untuk pelajaran sekolah, yg selama ini saya perhatikan dia kurang konsentrasi belajar dan terkesan buru-buru, pd hal kalau kita ada disampingnya dia dpt menjawab dgn benar, saat ini dia duduk dikelas V saya selalu komunikasi dgn gurunya tp saya tkt kebiasan berlanjut sampai smp, bagaimana membuat dia mandiri dan menjadi bertanggung jawab dirinya dan orang lain, apa yg mesti saya lakukan, mohon dibalas.
-
#39 written by admin 1 year ago
Dear Arief
Informasi yang kamu berikan minim sekali jadi saya kesulitan untuk membantu. Apayang membuat kamu tidak ingin keluar rumah,apakah pernah mengalami masalahyang berhubungan dengan sosia/interaksi dengan teman?. Sebenarnya apa yang kamu takutkan dari dunia yang ada diluar rumah? 3 tahun yang kamu masih bisa beraktifitas di
luar dan kemudian kamu memutuskan untuk mengurung diri di rumah dan menjauh dari interaksi sosial. Ada suatu hal yang memicu kamu untuk tidak keluar rumah, mungkin kamu mengalami trauma dengan teman (bulliying), merasa takut akan pandangan orang lain terhadap kamu dan banyak faktor lainnya yang tidak kamu jelaskan. Kasus-kasus yang pernah terjadi biasanya fobia sosial terjadi karena adanya tekanan dari teman, mengalami kekerasan baik fisik dan psikologis, dilecehkan, bulliying (biasanya terjadi pada usia sekolah
dan dilakukan oleh teman-teman di sekolah), terlalu takut akan penilaian dari orang lain yang menyebabkan kecemasan dan ketakutan untuk keluar rumah. Setelah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan tersebut, mereka menggeneralisir bahwa semua orang akan melakukan hal yag sama. Jika kamu memang memiliki keinginan untuk bersekolah, kamu harus mengenali masalah kamu apakah ada ketakutan, kecemasan atau hal lainnya.Pikirkan dengan logis apakah kecemasan kamu itu memang benar-benar terjadi. Untuk selanjutnya mungkin kamu bisa menceritakan dengan lebih jelas apa yang kamu alami dari 4 tahun yang lalu sehingga saya memiliki gambaran yang lebih jelas dan bisa membantu.Atau kamu dapat berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan bantuan profesional secara langsung dan lebh cepat kamu terbantu, lebih baik untuk hidup kamu kedepannya.Terimakasih.
VY -
#40 written by admin 1 year ago
Salam ibu Yuni,
Berdasar dari keterangan yang ibu berikan, anak ibu salah arti mengenai
keuntungan menjadi anak yang tergolong pandai. Saya akan kutip gambaran yang
menjelaskan itu, “saya pernah bilang kalo kamu pintar bisa untuk cari uang”. Ia
berpersepsi orang yang pintar akan mendapatkan uang. Dengan potensi kecerdasan
yang dimiliki, cara untuk mendapatkan uang adalah ketika ia mengerjakan sesuatu
dan dibayar oleh orang-orang sekitar. Ia belum mengerti cara mencari uang yang
seperti yang harusnya dilakukan dalam hal ini. Ia belum mengerti benar apa yang
dimaksud hitam/ putih atau benar/ salah dalam bertingkah laku. Tugas orangtua
adalah memberikan penjelasan yang lebih mendetail mengenai salah
persepsi tersebut. Ibu dapat memberikan penjelasan mengenai cara yang benar
untuk mendapatkan uang, misalnya dengan berkreatifitas menciptakan sesuatu dan
dijual. Ibu juga dapat menjelaskan mengapa orang pintar dapat mencari uang
karena ia dapat melihat peluang, ada yang menjadi pengusaha (mengandalkan
kreativitas), karyawan (perlu pendidikan tinggi sampai kulaih dan dapat ijazah),
dan lain-lain. Sebagai bantuan dalam menjelaskan hal tersebut, ibu mungkin dapat
memperlihatkan beberapa orang secara konkret, misalnya orang terkenal yang ada
di majalah atau ayah atau orang yang dapat menjadi contoh. Jelaskan juga mengapa
mengerjakan pekerjaan orang lain tidak memerlukan imbalan dari orang yang
bersangkutan. Jelaskan kerugian yang akan diperoleh apabila kita mengerjakan
pekerjaan orang lain, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain (temannya
dan guru). Berbeda dengan mengajari orang lain. Dengan mengajari orang lain,
anak memberikan kesempatan untuk temannya mengembangkan kemampuannya dengan
mengerjakan latihan-latihan yang diberikan oleh guru. Namun, kegiatan ini juga
perlu dijelaskan bahwa mengajari orang lain tidak perlu dibayar, terkecuali
apabila orang tersebut sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk mengajar dan
ada kesepakatan antara yang diajar dengan yang mengajar akan mendapat bayaran
ketika ia mengajar. Jelaskan juga bahwa itu disebut sebagai profesi. Itu
dapat dilakukan saat ia sudah besar dan sudah memiliki kemampuan yang cukup
untuk mengajar. Semoga dapat membantu ibu dalam memperbaiki persepsi yang salah
pada anak.Regards,
-
#41 written by Anggoro 1 year ago
Saya Anggoro…
Ingin bTanya tentang aspek atau cara penilaian hasil tes IQ…
Banyak soal2 dan aplikasi2 tentang test IQ…
Tapi untuk hasil atau nilainya apakah valid atau sesuai dengan standarisasi penilaian yang ada…Pertanyaan:
Adakah Standarisasi untuk cara menilai atau mengukur dalam soal2 tes IQ?Jika ada mengacu pada apa dan siapa yang membuat keputusan tsb(Pihak/lembaga)?Mohon penjelasan cara2 untuk menilai atau menghitung dari suatu tes IQ!
Terima kasih kepada Episentrum.
-
#42 written by annisa fathni 1 year ago
selamat pagi…
saya ingin minta tolong..
sekarang ini saya sedang berusaha menyelesai kan skripsi saya..
dengan ini saya ingin meminta bantuan,..
saya sangat butuh artikel, jurnal atau apapun tentang sikap hidup modern, atau pengertian dari modern..
tolong beri tau saya tentang teori dari modern..
terima kasih…
mohon bantuannya.. -
#43 written by ilkepele 1 year ago
selamat siang,,,,
sbnrx saya mau bantu teman saya,tapi dulunya pernah pacaran sama dia(sesorang)saya,kemudian kita putus karena banyak tekanan dr keluarganya agar tidak pacaran dgn aku.
trus, aku mau tanya_gimana yaa cara bantu dia dgn apa yg dialami itu karena ditambah lagi dia juga punya beban karena kuliahnya belum juga selesai-selesai???
kalau bisa dibalas secepatnya yaaa,,,,thanks>>>
-
#45 written by rosita 1 year ago
pagii….
maaf saya maw tanya tentang informasi pengaruh menikah muda terhadap kehidupan masyarakat itu ko gag da ya?
terus saya juga ingin mengetahui dampak secara psikologis dari menikah muda itu apa saja?
apabila dalam pernikahan tersebut terdapat masalah-masalah yg tdk dpt diselesaikan dgn segera bisa jadi muncul frustasi,lalu stres ato lbh parah lg gt ke arah depresi?
kemudian masalah sama konflik itu beda ato sama?ato dr masalah-masalah itu bisa jadi konflik yg pelik?
makasii saya tunggu jawabannya…. -
#46 written by sita 1 year ago
saya ingin bertanya..saya mempunyai keponakan laki-laki berumur 9 tahun.ia adalah anak kakak pertama saya yang telah bercerai dengan suaminya. sehingga anaknya tinggal di rumah bersama kami. sudah lama ia tinggal bersama ibu saya (yang berarti neneknya ponakan saya), saya, kakak saya yang ketiga beserta suaminya. kakak saya yang pertama adalah seorang perempuan, ia bekerja di jakarta sehingga ia jarang bertemu anaknya. kemudian ponakan saya ini tidak berkeberatan ibu nya menjalin kasih lagi hingga si ibu (kakak saya) menikah lagi dengan seorang duda beranak satu. tetapi anak dari ang suami ini ikut dengan si ibu. tidak lama kemudian, kakak saya memilki anak dari hasil perkawinannya, setelah bayi kakak saya lahir, kakak saya pindah ke jogja beserta membawa ponakan saya. akhirnya di jogja ia tinggal bersama kakak saya, adik baru yang baru lahir, dan kedua orang tua suami baru kakak saya. ketika di jogja, ponakan saya menjadi lebih suka mencari perhatian, sukar untuk dinasihatin, malas bersekolah karena sakit dan teman-teman barunya nakal. kalau bermain, suka memukul dan menendang. dan terkadang ketika ponakan saya ini rewel dan menangis, ia loncat-loncat di atas kasur padahal ada adik bayinya sedang tidur di kasur kemudian ia juga mengatakan pada kakak saya bahwa kakak saya hanya memperhatikan anak barunya. padahal menurut kakak saya, ia sudah memperhatikan anaknya (ponakan umur 9 th) dengan menemani kemana pun anaknya ingin bepergian dan mendorong anaknya untuk mengikuti berbagai aktivitas.
saya mau bertanya mengapa ponakan saya seperti itu?apakah susunan adanya keluarga baru mempengaruhinya? dan apa yang sebaiknya kakak saya lakukan dan perbaiki?
terima kasih banyak atas pperhatian dan bantuan episentrum. mohon dibantu.terima kasih:)
-
#47 written by admin 1 year ago
Dear Pak Anggoro,
Sebelum menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara menghitung atau
menilai suatu tes psikologi, saya perlu mengetahui profesi bapak terlebih
dahulu. Apakah profesi bapak berkaitan dengan psikologi atau bukan? Sebagai
individu yang sudah terikat dengan sumpah profesi, etika untuk memberitahu cara
penilaian dari suatu tes psikologi tidak diizinkan.Tes intelegensi yang disajikan dapat bermacam-macam tergantung kebutuhan
dari suatu tes. Kebutuhan tes intelegensi dapat dilihat dari latar belakang
pendidikan peserta tes (SD, SMP, SMU, D3/S1, S2, S3), usia, dan tujuan dari
pemeriksaan tes (misalnya evaluasi psikologi, penjurusan atau seleksi karyawan).
Perbedaan latar belakang peserta dan tujuan tes akan mempengaruhi aspek-aspek
kecerdasan yang akan diukur. Namun yang pasti tes tersebut mengukur setiap aspek
kecerdasan, seperti penalaran numerika, pengetahuan umum, penalaran verbal, daya
ingat, dan lainnya. Untuk mendapat skor dari tes intelegensi, setiap alat tes
yang digunakan sudah memiliki standar tersendiri, yaitu menggunakan norma dari
tiap alat tes sesuai dengan skor IQ dan usia dari peserta tes. Standar tersebut
sudah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hal ini berkaitan dengan
soal-soal dari tiap subtes dalam suatu alat tes. Soal-soal yang disajikan dalam
suatu tes sudah diuji terlebih dahulu pada beberapa orang berdasarkan usia dan
latar belakang budaya. Ada beberapa alat tes yang memang terkait dengan latar
belakang budaya namun ada juga beberapa alat tes yang tidak terkait dengan
budaya. Biasanya alat tes yang terkait dengan budaya akan diadaptasi terlebih
dahulu dengan budaya yang ada, yaitu salah satu caranya adalah dengan mengujikan
dan mengganti beberapa item soal dengan kata yang serupa yang biasa digunakan
dalam budaya tersebut. Memang tidak mudah membuat alat tes psikologi karena
perlu diujikan pada beberapa orang dengan latar belakang individu:
pendidikan, usia, budaya, dan sosial ekonomi. Setiap alat tes ini tidak dibuat
oleh satu institusi tertentu, melainkan dibuat oleh perorangan atau beberapa
institusi. Namun untuk mempermudah anda dalam mengetahui informasi tentang
tiap alat tes, anda dapat mengunjungi biro psikologi tertentu atau Himpsi
(Himpunan Psikologi Indonesia). Jika anda merupakan satu profesi dengan saya
dan memiliki surat izin praktek, biasanya anda dapat membeli dan mempergunakan
alat tes tersebut sesuai dengan kebutuhan. Semoga informasi yang saya berikan
dapat bermanfaat bagi anda.Salam,
Episentrum
-
#48 written by admin 1 year ago
Dear Ibu Sry
Saya dapat merasakan kesulitan ibu dalam membesarkan 3 orang anak dengan
usia yang bervariasi (usia remaja, praremaja dan awal kanak-kanak). Terlebih
lagi ibu sebagai single parent yang juga mencari nafkah untuk ibu dan ketiga
anak ibu. Akan lebih baik dalam konsultasi ini, ibu memberikan informasi
mengenai siapa saja yang ikut membantu dalam mengurus ketiga buah hati ibu.
Adakah pengasuh/ tante/ nenek yang ikut dalam pengasuhan? Jika tidak ada,
bagaimana ibu dapat membagi waktu antara pekerjaan ibu dan anak-anak, terutama
dalam hal belajar/ bermain dengan ketiga buah hati ibu? Adakah waktu khusus di
akhir pekan untuk menghabiskan waktu bersama mereka? Dari informasi, tampak
jelas bahwa putri remaja ibu mengalami kecemburuan terhadap kedua anak ibu
lainnya. Kecemburuan ini mungkin terjadi karena kurang jelasnya informasi yang
diterima oleh putri remaja ibu. Untuk menghindari adanya kecemburuan, ibu
sebaiknya memberikan penjelasan, menanyakan kesediaan dan mempersiapkan
psikologi putri ibu sebelum berniat untuk merawat kedua keponakan ibu. Hal ini
dapat ibu lakukan juga sejalan beriringan dengan proses penerimaan putri ibu
terhadap kedua sepupunya. Ibu dapat memberikan penjelasan lebih detail dengan
memberikan contoh konkret tentang sebuah keluarga yang mengadopsi anak karena
orangtuanya tidak diketahui. Ibu dapat mengkaitkan posisi keponakan ibu ketika
orangtuanya meninggal dan tidak ada yang mengurusi. Ajak anak untuk berdiskusi
mengenai pengandaian ketika putri ibu berada pada posisi sepupunya. Kemudian,
tanyakan kembali mengenai kesediannya untuk menerima kedua sepupunya. Jika
bersedia, mintalah secara bertahap untuk mulai berbagi kasih sayang dengan kedua
sepupunya. Jelaskan kembali bahwa dengan ibu mengadopsi mereka berdua berarti
ibu memperlakukan kedua keponakan ibu sebagai anak kandung sehingga putri ibu
perlu berbagi kasih sayang dengan mereka. Berikan pengertian bahwa ibu akan
tetap menyayanginya meskipun memberikan kasih sayang kepada kedua sepupunya.
Untuk memperbaiki hubungan antara putri ibu dan kedua sepupunya, ibu dapat
melakukan kegiatan secara bersama. Sebagai contoh, ibu dapat bermain ular
tangga, bulu tangkis, memasak, dan lainnya. Namun sebagai catatan, permainan ini
harus dapat dilakukan oleh ibu, putri ibu, dan kedua anak ibu lainnya, serta
harus ada interaksi di dalamnya. Jika hal ini dapat dilakukan secara berkualitas
dan intensif, akan menurunkan tingkat kecemburuan putri remaja ibu kepada kedua
sepupunya.Ada banyak kendala untuk membesarkan anak yang diadopsi di usia
sekolah. Nilai-nilai dan aturan yang telah diterima oleh anak akan berbeda
dengan nilai/ aturan yang dimiliki oleh ibu. Mungkin berbohong ini sudah menjadi
kebiasaan bagi anak laki-laki ibu. Dan tidak ada teguran/ hukuman ketika ia
berbohong sehingga menjadi kebiasaan. Salah satu cara untuk menghilangkan
kebiasaan berbohong, ibu dapat mengajak anak berdiskusi. Bertanyalah mengenai
kebohongan yang dilakukannya dan apa alasannya. Lalu ajaklah berdiskusi apa yang
dapat dilakukan untuk memecahkan masalahnya namun tidak dengan cara berbohong.
Berikan penjelasan mengenai kerugian ketika berbohong. Sedangkan untuk melatih
kedisiplinan anak adalah membuat jadwal sehari-hari dengan kesepakatan yang
disetujui oleh anak, mulai dari belajar, bermain, tidur, makan dan menonton
televisi. Saat anak berhasil memenuhi jadwal, berikan reward kepada anak. Reward
itu dapat berupa pujian atau benda, misalnya anak akan mendapatkan barang yang
disukainya apabila ia berhasil melakukan jadwal selama sebulan penuh. Dengan
begitu, anak menjadi termotivasi untuk mencapai jadwal yang ditentukan. Kondisi
ini dapat diterapkan juga jika ibu ingin melatihnya untuk selalu mengerjakan PR
sekolahnya. Untuk mengurangi tingkat stress ibu dalam mengasuh anak, ada baiknya
ibu mempekerjakan seorang pengasuh untuk membantu ibu dalam mengawasi aturan dan
perkembangan anak selama ibu berada di luar rumah/ bekerja. Semoga saran dari
saya dapat membantu ibu dalam membesarkan ketiga buah hati.Salam,
episentrum -
#49 written by ridwan ibrahim 1 year ago
saya anak lulusan psikologi, saya mengalami permasalahan dengan ortu, saya dianggap anak bermasalah. Kemudian dengan kesadaran saya sendiri, saya datang ke orang2 yang biasa menangani orang ber masalah mulai orang2 yang beragama, psikolog, hipnotherapis, orang dari lembaga sosial, tetapi semua jawaban sama yaitu anda dapat mengatasi sendiri, apa perlu saya ketemu psikiater. Disini hanya saya saja yg berkeinginan untuk menyelesaikan masalah, saya tunggu jawabannya, thanks.
-
- Comment Feed for this Post
Didn't find any related posts :(


boleh gak mnta tolong?